Senin, 22 Agustus 2011

ASAL MULA TRADISI POHON NATAL


Gua Natal yang sekarang ini lazim menghiasi pojok-pojok ruang keluarga dan Gereja Katolik pada masa Natal berawal dari kisah seorang yang sangat kudus, St. Fransiskus dari Asisi.
Pada tahun 1223, St. Fransiskus Asisi mengunjungi kota Grecio untuk merayakan Natal. Grecio adalah sebuah kota kecil di lereng gunung Italia dengan lembah yang indah terha...mpar di hadapannya. Masyarakat sekitar menanami daerah yang subur itu dengan pohon-pohon anggur. St. Fransiskus menyadari bahwa kapel pertapaan Fransiskan akan terlalu kecil untuk dapat menampung umat yang akan hadir pada Misa Natal tengah malam. Maka, ia mendapatkan sebuah gua di bukit karang dekat alun-alun kota dan mendirikan altar di sana. Tetapi, Misa Natal kali ini akan sangat istimewa, tidak seperti Misa-misa Natal sebelumnya.
St. Bonaventura (wafat tahun 1274) dalam buku karangannya “Legenda Mayor: Riwayat St. Fransiskus dari Asisi” menceritakan sebagai berikut:
“Hal itu terjadi tiga tahun sebelum wafatnya. Guna membangkitkan gairah penduduk Grecio dalam mengenangkan kelahiran Bayi Yesus dengan devosi yang mendalam, St. Fransiskus memutuskan untuk merayakan Natal dengan sekhidmat mungkin. Agar tidak didakwa merayakan Natal dengan tidak sepatutnya, ia minta dan memperoleh ijin dari Bapa Uskup. Kemudian St. Fransiskus mempersiapkan sebuah palungan, mengangkut jerami, juga menggiring seekor lembu jantan dan keledai ke tempat yang telah ditentukannya. Para biarawan berkumpul, penduduk berhimpun, alam dipenuhi gema suara mereka, dan malam yang kudus itu dimeriahkan dengan cahaya benderang dan merdunya nyanyian puji-pujian. St. Fransiskus berada di depan palungan, bersembah sujud dalam segala kesalehan, dengan bercucuran air mata dan berseri-seri penuh sukacita; Kitab Suci dikidungkan oleh Fransiskus, Utusan Tuhan. Kemudian ia menyampaikan khotbah kepada umat di sekeliling tempat kelahiran sang Raja miskin; tak sanggup menyebutkan nama-Nya oleh karena kelembutan kasih-Nya, ia menyebut-Nya sang Bayi dari Betlehem. Seorang prajurit yang gagah berani lagi saleh, Yohanes dari Grecio, yang karena kasihnya kepada Kristus telah meninggalkan kemapanan dunia ini dan menjadi sahabat orang kudus kita, menegaskan bahwa ia melihat Bayi yang sungguh menawan luar biasa, sedang tidur dalam palungan. Dengan sangat hati-hati, St. Fransiskus menggendong-Nya dalam pelukannya, seolah-olah takut membangunkan sang Bayi dari tidur-Nya. Penglihatan prajurit yang saleh ini dapat dipercaya, tidak saja karena kesalehan ia yang melihatnya, tetapi juga karena mukjizat-mukjizat yang terjadi sesudahnya meneguhkan kebenaran itu. Sebagai contoh St. Fransiskus, jika dianggap oleh dunia cukup meyakinkan, dapat menggairahkan segenap hati yang tak peduli akan iman kepada Kristus, dan jerami dari palungan, yang disimpan oleh penduduk, secara ajaib menyembuhkan segala macam penyakit ternak, dan juga wabah-wabah lainnya. Dengan demikian, Tuhan dalam segala hal memuliakan hamba-Nya dan meneguhkan kemanjuran doa-doa kudusnya yang luar biasa dengan mengadakan keajaiban-keajaiban serta mukjizat-mukjizat.”
Meskipun kisah di atas cukup kuno, pesannya bagi kita jelas. Gua Natal yang kita tempatkan di bawah pohon Natal merupakan tanda pengingat yang kelihatan akan malam itu ketika Juruselamat kita dilahirkan. Semoga kita senantiasa ingat untuk melihat dalam hati kita, sang Bayi mungil dari Betlehem yang datang untuk membebaskan kita dari dosa. Semoga kita senantiasa ingat bahwa kayu palungan yang membuai-Nya dengan nyaman dan aman, suatu hari kelak akan menyediakan kayu salib bagi-Nya. Semoga kita juga senantiasa memeluk Dia dengan segala cinta dan kasih sayang seperti yang dilakukan St. Fransiskus.

SEPUTAR MASA ADVEN


Masa Adven adalah masa persiapan rohani umat beriman sebelum Natal. Masa Adven dimulai pada hari Minggu terdekat sebelum Pesta St. Andreas Rasul (30 November) yang berlangsung selama empat minggu, meskipun minggu terakhir Adven pada umumnya terpotong dengan tibanya Hari Natal.
Dari mana sebenarnya asal mula masa Adven ? Awalnya di Perancis, Masa Ad...ven merupakan masa persiapan menyambut Hari Raya Epifani. Pada saat itu para calon dibaptis menjadi warga Gereja; jadi persiapan Adven amat mirip dengan Prapaskah dengan penekanan pada doa dan puasa yang berlangsung selama tiga minggu dan kemudian diperpanjang menjadi 40 hari. Pada Konsili lokal Saragossa di Spanyol tahun 380 ditetapkan tiga minggu masa puasa sebelum Epifani. Kemudian dengan diilhami peraturan masa prapaskah, pada Konsili lokal Macon, di Perancis tahun 581 ditetapkan bahwa mulai tanggal 11 November (pesta St. Martinus dari Tours) hingga Hari Natal, umat beriman berpuasa pada hari Senin, Rabu dan Jumat. Lama-kelamaan, praktek seperti ini mulai menyebar ke Inggris. Di Roma sendiri, masa persiapan Adven belum diadakan sampai abad keenam, dan dianggap sebagai masa persiapan menyambut Natal namun dengan ikatan pantang-puasa yang lebih ringan.
Gereja Katolik sendiri secara bertahap kemudian mulai membakukan masa Adven. Buku Doa Misa Gelasian, yang menurut tradisi diterbitkan oleh Paus St. Gelasius I (wafat th. 496), adalah yang pertama menerapkan Liturgi Adven selama lima Hari Minggu. Di kemudian hari, Paus St. Gregorius I (wafat thn 604) memperkaya liturgi ini dengan menyusun doa-doa, antifon, bacaan-bacaan dan tanggapan. Sekitar abad kesembilan, Gereja menetapkan Minggu Adven Pertama sebagai awal tahun penanggalan Gereja. Dan akhirnya, Paus St. Gregorius VII (wafat thn 1095) mengurangi jumlah hari Minggu dalam Masa Adven menjadi empat.
Walaupun asal muasal masa Adven tidak jelas, tetapi maknanya tetap terfokus pada kedatangan Kristus (kata “Adven” berasal dari bahasa Latin “adventus”, yang artinya “datang”). Katekismus Gereja Katolik menekankan makna ganda “kedatangan” ini sebagai berikut: “Dalam perayaan liturgi Adven, Gereja menghidupkan lagi penantian akan Mesias; dengan demikian umat beriman mengambil bagian dalam persiapan yang lama menjelang kedatangan pertama Penebus dan membaharui di dalamnya kerinduan akan kedatangan-Nya yang kedua” (no. 524).
Oleh sebab itu, di satu pihak, umat beriman merefleksikan kembali dan didorong untuk merayakan kedatangan Kristus yang pertama ke dalam dunia ini. Kita merenungkan kembali misteri inkarnasi yang agung ketika Kristus merendahkan diri, mengambil rupa manusia, dan masuk dalam dimensi ruang dan waktu guna membebaskan kita dari dosa. Di lain pihak, kita ingat dalam Syahadat bahwa Kristus akan datang kembali untuk mengadili orang yang hidup dan mati dan kita harus siap untuk bertemu dengannya.
Suatu cara yang baik dan saleh untuk membantu kita dalam masa persiapan Adven adalah dengan memasang Lingkaran Adven atau Korona Adven. Lingkaran Adven merupakan suatu lingkaran, tanpa awal dan akhir : jadi kita diajak untuk merenungkan bagaimana kehidupan kita, di sini dan sekarang ini, ikut ambil bagian dalam rencana keselamatan Allah yang kekal dan bagaimana kita berharap dapat dapat ikut ambil bagian dalaasm kehidupan kekal di kerajaan surga. Lingkaran Adven terbuat dari tumbuh-tumbuhan segar, sebab Kristus datang guna memberi kita hidup baru melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Tiga batang lilin berwarna ungu melambangkan tobat, persiapan dan kurban; sebatang lilin berwarna merah muda melambangkan hal yang sama, tetapi dengan menekankan Minggu Adven Ketiga, Minggu Gaudate, saat kita bersukacita karena persiapan kita sekarang sudah mendekati akhir. Terang itu sendiri melambangkan Kristus, yang datang ke dalam dunia untuk menghalau kuasa gelap kejahatan dan menunjukkan kepada kita jalan kebenaran. Gerak maju penyalaan lilin setiap hari menunjukkan semakin bertambahnya kesiapan kita untuk berjumpa dengan Kristus. Setiap keluarga sebaiknya memasang satu Lingkaran Adven, menyalakannya saat santap malam bersama dan memanjatkan doa-doa khusus. Kebiasaan ini akan membantu setiap keluarga untuk memfokuskan diri pada makna Natal yang sebenarnya.
Secara keseluruhan, selama Masa Adven kita berjuang untuk menggenapi apa yang kita daraskan dalam doa pembukaan Misa Minggu Adven Pertama: “Bapa di surga… tambahkanlah kerinduan kami akan Kristus, Juruselamat kami, dan berilah kami kekuatan untuk bertumbuh dalam kasih, agar fajar kedatangan-Nya membuat kami bersukacita atas kehadiran-Nya dan menyambut terang kebenaran-Nya.

sumber : “Straight Answers: The Celebration of Advent” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2003 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com


“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

Lebih Dari Sekedar Lawatan


Sebentar lagi kita akan merayakan Natal, kita akan didatangi Sang Bayi yang menyelamatkan manusia. Kata Adventus adalah kata bahasa latin. Kata itu adalah gabungan dari kata ad (pada atau kepada) dan venire (datang). Jadi secara harafiah, kata Adven berarti datang kepada. Siapa datang kepada siapa ? Siapa melawat siapa ? Pertama, Tuhan datang kepad...a kita, manusia. Tuhan yang selalu mulai berinisitif mengunjungi, melawat umat Nya. Tuhan datang kepada kita milik kepunyaan Nya. Tuhan yang maha mulia, maha kudus, maha akbar, sudi mengunjungi kita. Dia tidak hanya sekedar lewat, tetapi melawat. Dia juga tidak hanya sekedar melawat, tetapi lebih dari itu. Ia sendiri mau tinggal bersama dan menyertai kita. Tempat tinggal yang paling layak bagi Tuhan adalah hati kita yang suci.
Yesus melawat kita dengan tujuan khusus. Ia datang untuk menyelamatkan kita dari maut dan dosa. Tetapi kedatangan Nya tidak disambut baik oleh manusia. Yohanes Penginjil menulis bahwa Yesus “datang kepada milik Nya, namun bangsa milik Nya tidak menerima Dia.” Saat ini Tuhan sedang melawat kita dan ingin tinggal bersama kita. Apakah kita mau menerima Dia?
Kedua, kita datang kepada Tuhan, artinya kita harus membuka hati untuk menerima Dia. Kedatangan kita kepada Tuhan tidk boleh terjadi hanya pada saat kita membutuhkan dan meminta sesuatu kepada Nya. Setiap saat kita harus selalu hadir pada Nya. Kita terus menerus membuka hati dan mengijinkan Tuhan berkarya dalam diri dan seluruh hidup kita. Kedatangan kita kepada Tuhan ditunjukkan juga dengan kemauan untuk melaksanakan ajaran-ajaran Nya. Kita datang kepada Tuhan, karena Dia lah harapan kita. Dia lah andalan kita. Hanya pada Nya lah keselamatan dan kebahagiaan kita.
Apakah saya ada, hadir ketika Tuhan melawat? Apakah saya siap menyambut ;awatan Nya? Apakah saya selalu datng kepada Tuhan dan siap merindukan persatuan dengan Dia ? Atau saya suka datang kepada allah-allah lain yang tidak mampu menyelamatkan ?

Ke Gereja Hari Minggu ?

  • Berikut ini ada postingan bagus, dan saya copas ke sini dengan banyak sentuhan. Ini hasilnya:


    Kenapa kita merayakan Missa pada hari Ahad dan bukannya hari Sabtu?

    ... ---------------------------------------------------------
    Disini perlu dijelaskan bahwa ibadah merupakan suatu bentuk penghayatan untuk merayakan secara publik apa yang dipercayai. Dari definisi ini, agama Kristen mempunyai kepercayaan bahwa Yesus bangkit pada hari Minggu, dimana ini adalah kemenangan atas maut yang telah diberitakan dari awal mula (Gen 3:15).

    Jadi dengan beribadah pada hari Minggu, agama Kristen memperingati kebangkitan Kristus yang melambangkan bahwa kita menjadi ciptaan baru di dalam Dia. Sehingga hari Tuhan tidak diperingati pada hari Sabat atau hari terakhir penciptaan, dimana Tuhan beristirahat, namun menjadi hari pertama penciptaan, yang terjadi pada hari Minggu. Disinilah pentingnya memperingati hari Tuhan pada hari Minggu, karena kita telah menjadi ciptaan baru di dalam Kristus.

    Pada masa Gereja awal, banyak orang-orang Kristen yang berasal dari Yahudi hendak memaksakan ibadah pada hari Sabat. Namun Bapa Gereja di masa-masa Gereja perdana menentang hal ini, karena seolah-olah mereka yang merayakan ibadah pada hari Sabat tidak pernah menerima berkat dari Yesus, atau seolah-olah keselamatan di dapat karena pekerjaan dari hukum Taurat. Namun seorang Kristen diselamatkan bukan karena menjalankan hukum Taurat, namun karena rahmat Tuhan semata, dimana diterima lewat berkat pengorbanan Kristus di kayu salib.

    ---------------------------------------------------------

    ‎1389. Gereja mewajibkan umat beriman, "menghadiri ibadat ilahi pada hari Minggu dan hari raya" (OE 15) dan sesudah mempersiapkan diri melalui Sakramen Pengakuan, sekurang-kurangnya satu kali setahun menerima komuni suci, sedapat mungkin dalam masa Paska Bdk. CIC, can. 920.. Tetapi Gereja menganjurkan dengan tegas kepada umat beriman, supaya menerima komuni suci pada hari Minggu dan hari raya atau lebih sering lagi, malahan setiap hari. (Katekimus Gereja Katolik)

    ---------------------------------------------------------

    copas dari katolisitas.org

    Tuhan memerintahkan hari Sabbat sebagai hari Tuhan.

    1.==Sabat (Ibrani: shabbath) adalah dimulai dari hari Jum’at sore (matahari terbenam) sampai sabtu sore (matahari terbenam). Dan secara prinsip, Allah menginginkan manusia untuk menyembah-Nya secara khusus, karena Allah adalah pencipta dan pemelihara kehidupan.

    2.== Sabat, hari ke tujuh dalam penciptaan, adalah hari khusus yang diberkati dan dikuduskan oleh Allah, karena Allah berhenti dari segala pekerjaan ciptaan yang telah dibuat-Nya (lih. Kej 2:2-3; Kel 20:11).

    3.== Tuhan melarang umat-Nya untuk bekerja pada hari Sabat, karena hari itu adalah yang dikuduskan oleh Allah (Kel 20:9-11).

    4.== Allah memerintahkan untuk memelihara hari Sabat (Im 19:3, Im 19:30).

    5. ==Sabat merupakan tanda peringatan antara manusia dengan Allah dan menjadikannya perjanjian kekal (lih. Kel 31:13; Kel 31:16; Kel 31:17).

    6.== Yang melanggar hari Sabat dihukum mati (lih. Kel 31:14; Kel 31:15; Bil 15:32-36).

    Dari ayat-ayat tersebut di atas, dan masih banyak ayat-ayat yang lain, hari Sabat memang ditentukan oleh Tuhan sendiri yang harus dijalankan oleh umat-Nya secara turun-temurun.

    ================================

    Perjanjian Baru menggenapi dan menyempurnakan Perjanjian Lama.

    1.==Kita masih mengingat bahwa Yesus sendiri beberapa kali berdebat dengan kaum farisi yang memberikan beban yang tak tertanggungkan kepada manusia (Mat 23:4) dan kemudian Yesus menyatakan bahwa hari Sabat dibuat untuk manusia, bukan sebaliknya (Mk 2:27).

    2.==Yesus sendiri menyembuhkan orang pada hari Sabat dan membela muridnya ketika mereka mengambil makanan di ladang, dan Yesus mengutip tentang apa yang dilakukan oleh Daud (Mat 12:3; Mk 2:25; Luk 6:3; Lk 14:5).

    3.==Kebangkitan Yesus terjadi pada hari Minggu, yang disebut sebagai hari pertama di dalam minggu (Luk 24:1)

    4==Rasul Paulus mengatakan bahwa hari Sabat tidak mengikat umat Kristen (Col 2:16; Gal 4:9-10; Rom 14:5).

    5==Jemaat Kristen perdana yang non Yahudi merayakan hari Tuhan pada hari Minggu (Kis 20:7; 1 Kor 16:2). Selanjutnya, maka perayaan hari Tuhan bagi umat Kristen adalah hari Minggu yang dikatakan sebagai hari pertama di dalam minggu, dan bukan hari terakhir dalam minggu (bukan Sabat).

    ================================

    Ajaran dari Bapa Gereja.

    1.==Lebih lanjut, St. Ignasius dari Antioch (45-110) mengatakan bahwa seorang Kristen tidak terikat oleh hari Sabat namun hari ke delapan, atau hari permulaan minggu, atau Hari Minggu, karena pada hari itulah Kristus bangkit (Epistle of Barnabas XV).

    2.==Demikian juga dengan St. Justin Martir, Tertullian, mengingatkan bahwa untuk umat Kristen, hari Tuhan adalah hari Minggu.

    3.==Dan setelah agama Kristen menjadi agama negara, maka Gereja, di Konsili Elvira (300), Konsili Laodicea (abad ke-4), Konsili Orleans (538), mengharuskan umat Kristen untuk beribadah pada hari Minggu

    ================================
    Alasan teologi

    Secara teologi perayaan hari Tuhan juga dapat dipertanggungjawabkan, yaitu dengan alasan: 1) Kita tidak merayakan hari terakhir penciptaan, namun hari pertama penciptaan. Hal ini disebabkan karena di dalam Kristus, dengan pembaptisan, umat Kristen menjadi manusia ciptaan yang baru. Dan kita menjadi ciptaan baru karena kebangkitan Kristus, yang terjadi pada hari Minggu.

    Orang yang merayakan hari Tuhan pada hari Sabat seolah-olah mereka masih terikat dengan tradisi, dan belum hidup baru dalam Kristus (lih. Kis 20:7; 1 Kor 16:2).

    =============================

    Dari keterangan tersebut di atas, kita melihat bukan Gereja Katolik yang merubahnya pada jaman kaisar Konstantin, namun Gereja mengikuti apa yang difirmankan oleh Allah di dalam Perjanjian Baru, sebagai pemenuhan dan penyempurnaan Perjanjian Lama. Dan hal ini juga telah dilaksanakan oleh jemaat perdana sebelum jaman Konstantin.

    Mari kita bersama-sama mensyukuri akan karunia hari Minggu, hari bagi umat Kristen untuk beribadah kepada Tuhan secara khusus. Namun kita juga dipanggil untuk beribadah setiap hari, dengan ucapan syukur dan senantiasa mengingat Yesus dalam kehidupan keseharian kita. Terpujilah Tuhan….

"Tidak adakah yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini ?"


Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem, Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika Ia masuk suatu desa, datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh, dan berteriak, "Yesus, Guru, kasihanilah kami !" Yesus lalu memandang mereka dan berkata, "Pergilah dan perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam." Dan sementara dala...m perjalanan, mereka menjadi tahir. Seorang di antara mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus, dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu seorang Samaria. Lalu Yesus berkata, "Bukankah sepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir ? Di manakah yang sembilan orang itu ? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini ? Lalu Yesus berkata kepada orang itu, "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau."
Inilah Injil Tuhan kita !
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan !

Renungan

Kisah 10 orang kusta yang datang pada Tuhan Yesus dan mohon disembuhkan memuat pengajaran berharga tentang pentingnya bersyukur. Mereka semua akhirnya disembuhkan tetapi ternyata tidak semua datang lagi untuk mengucap syukur kepada Tuhan Yesus. Kenapa ?
Pertama, sikap lupa. Manusia itu mudah lupa. Apalagi untuk melakukan yang baik, orang sering kali lupa. Misalnya, Dewi si istri Nandar saat berdoa malam mempunyai niatan yang baik, esok hari setelah suami pulang kerja akan menyambut dengan manis dan ramah. Ternyata karena keasyikan menonton sinetron Bayu Cinta Luna (BCL) yang lagi seru-serunya, ia jadi duduk tersekat. Pintu gerbang terbuka, tanda suaminya datang. Namun apa daya, untuk meninggalkan TV dan membukakan pintu bagi sang suami rasanya berat. Akhirnya seperti hari-hari biasanya, sang suami tak mendapat sambutan hangat dari sang istri. Boro-boro dibuatkan teh manis dan dibantu membawa tas kantornya. Gatot = gagal total lagi. Lupa akan niat baiknya.

Dalam Injil ini, kita mendengar ada 10 orang kusta yang disembuhkan Tuhan Yesus. Sayang hanya 1 orang yang datang untuk mengucap terima kasih pada-Nya. Sungguh terlalu ! Yesus senang dengan melihat satu orang yang datang mengucap terima kasih pada-Nya. Di sisi lain, Yesus kecewa terhadap yang lain. Mereka lupa untuk mengucap terima kasih. Apakah orang-orang yang seperti itu pantas disebut sebagai orang-orang baik ?

Tentu dalam konteks ini kita sulit mengatakan mereka adalah orang-orang baik. Namun tanpa sadar kita pun sering bersikap seperti mereka. Tidak datang untuk bersujud dan berterima kasih pada Tuhan Yesus. Kita lupa atau pura-pura lupa, walau telah banyak kasih Tuhan. Bila begitu adanya, apakah kita juga dapat disebut sebagai orang yang berterima kasih ? Tentu tidak !

Kedua, sikap sombong. Orang sombong selalu menganggap bahwa apa yang terjadi, pertama-tama karena usaha, kerja, dan perjuangan sendiri. Maka bila ada hasil, itu sudah sewajarnya. Saat sedang sakit barulah mereka sadar bahwa itu anugerah Tuhan. Dokter, perawat dan obat yang mahal tidak mampu menjamin kesembuhan. Hidup ini anugerah Tuhan.

Sahabat PerKat terkadang hidup itu harus mengalami pasang surut, ada kalanya hidup kita sangat dipenuhi oleh yang dibutuhkan dan ada kalanya begitu sulitnya kita memperoleh yang dibutuhkan. Ketika kita mendapat yang dibutuhkan maka sikap sombong kita sering muncul sehingga kita menganggap banyak hal yang disepelekan oleh kita, seperti terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan sehingga anak istri tidak diperhatikan, begitu bangganya kita mengendarai mobil mewah kita sehingga kita boleh memaki orang-orang dijalanan, atau kita sudah tidak mau lagi berkumpul dengan orang-orang lingkungan untuk doa Rosario, pendalaman Kitab Suci. Bisa juga kita lupa bahwa semua yang ada pada diri kita ini bukan sekedar usaha kita tapi semua itu adalah karunia Allah.
Jadi ubahlah hidup kita untuk lebih rendah hati, lebih bisa mensyukuri hidup yang Tuhan berikan apapun itu keadaannya (itulah yang baru Tuhan mau berikan), bangkitlah sahabatku dari keputusasaan yang sedang kita hadapi karena Tuhan yang menentukan waktu dan ujian agar iman kita semakin teruji.

Maka kerendahan hati sangat mutlak dibangun untuk membentuk sikap terbuka dan dekat dengan Tuhan. Tanpa kerendahan hati orang sulit untuk melihat anugerah Tuhan sebesar apapun yang telah dibuat Yesus. Oleh karena itu mari kita selalu berdoa agar dianugerahi sikap ‘eling’ dan rendah hati seperti satu orang yang mau datang pada Tuhan Yesus.

Kupersembahkan untuk sahabat PerKat yang sedang mengalami iman yang kering dan doa yang belum terkabul.

Bagaimana dengan peristiwa-peristiwa yang tidak disebutkan dalam Injil ? oleh: Romo Victor Hoagland, C.P.



Kisah sengsara Yesus dalam Injil - terutama sekali tulisan St Lukas - menjadi sumber bagi sebagian besar dari keempatbelas perhentian Jalan Salib tradisional. Peristiwa Yesus dijatuhi hukuman mati oleh Pilatus, Yesus memanggul salib-Nya, Simon dari Kirene membantu memanggul salib, perempuan-perempuan yang menangisi-Nya, pakaian Yesus ditanggalkan,... Yesus disalibkan, Yesus wafat, Yesus diturunkan dari salib dan dimakamkan, semuanya dicatat dalam Kitab Suci.

Tetapi bagaimana dengan peristiwa-peristiwa yang tidak disebutkan dalam Injil? Misalnya peristiwa Yesus berjumpa dengan Maria, Bunda-Nya; Veronika mengusap wajah Yesus; Yesus jatuh sebanyak tiga kali? Dari manakah kisah-kisah ini berasal? Tampaknya kisah-kisah tersebut berasal dari para peziarah perdana yang mengunjungi Yesusalem.

   Yesus berjumpa dengan bunda-Nya, Yesus jatuh tiga kali

Menurut Injil Yohanes, Bunda Maria berdiri dekat Salib Yesus (Yoh 19:25-27). Tidakkah Bunda Maria termasuk dalam rombongan yang mengikuti-Nya dalam perjalanan-Nya ke Kalvari, dan tidak mungkinkah mereka bertemu dalam perjalanan itu? Para peziarah yang napak tilas di sepanjang Via Dolorosa (=Jalan Sengsara) yakin dengan pasti akan hal tersebut.

Yesus tentulah teramat lemah selama sengsara-Nya. Jika tidak demikian, mengapakah Simon dari Kirene dipaksa untuk membantu memanggul salib-Nya? Bukankah penderaan yang dilakukan oleh para prajurit Pilatus demikian dahsyatnya? Para peziarah yang melewati Via Dolorosa dengan pasti menyimpulkan bahwa Yesus jatuh lebih dari satu kali oleh sebab kondisi-Nya yang sedemikian lemah. Sementara para peziarah sendiri menapaki jalan Yerusalem yang sulit serta berliku-liku, mereka yakin bahwa pastilah Ia jatuh berulang kali.

   Kisah Veronika


Kisah Veronika tidak diceriterakan dalam Injil mana pun, tetapi dicatat dalam tulisan-tulisan apokrip. Kisah Pilatus dari abad kedua mencatat bahwa seorang wanita bernama Veronika (Bernice, dalam bahasa Yunani) adalah wanita yang sama dengan yang telah disembuhkan Yesus dari sakit pendarahan (Mat 9:20:22). Wanita itu datang pada saat Yesus diadili di hadapan Pilatus untuk menyatakan bahwa Ia tidak bersalah.

Versi sesudahnya tentang kisah tersebut yang berasal dari abad keempat atau kelima mencatat bahwa Veronika memiliki sepotong kain dengan gambar Wajah Yesus. Para peziarah Barat kembali ke Eropa dan menceritakan kisah tentang Veronika. Oleh karena devosi Jalan Salib berkembang pada akhir abad pertengahan, kisah Veronika dikenangkan dalam perhentian keenam: Veronika mengusap Wajah Yesus dalam perjalanan-Nya ke Kalvari dan Yesus meninggalkan gambar wajah-Nya di kerudung Veronika. Reliqui dengan gambar Wajah Yesus, yang dikenal sebagai “Kerudung Veronika”, dihormati di Gereja St. Petrus di Roma sejak abad kedelapan.

   Veronika dan wanita-wanita lain yang melayani Yesus

Para wanita memainkan peranan penting dalam Jalan Salib. Sesungguhnya, Injil memberikan kesan yang baik tentang mereka sepanjang kisah sengsara. Dua Injil mengawali kisah sengsara dengan ceritera tentang seorang wanita tak dikenal yang meminyaki kepala Yesus dengan minyak wangi yang mahal harganya di rumah Simon si kusta, pada saat yang sama Yudas dan imam-imam kepala bersekongkol untuk membunuh Dia (Mat 26:6-13; Mark 14:3-9).


Dalam perjalanan-Nya ke Kalvari, “Sejumlah besar orang mengikuti Dia; di antaranya banyak perempuan yang menangisi dan meratapi Dia.” (Luk 23:27). Sementara di Kalvari, “Ada di situ banyak perempuan yang melihat dari jauh” (Mat 27:55). Para wanita menghadiri pemakaman-Nya: mereka “ikut serta dan mereka melihat kubur itu dan bagaimana mayat-Nya dibaringkan. Dan setelah pulang, mereka menyediakan rempah-rempah dan minyak mur. (Luk 23: 55-56). Pada pagi Paskah, mereka datang untuk meminyaki Tubuh-Nya, tetapi mendapati bahwa makam telah kosong (Mat 28:1-10; Yoh 20:1-10).

Pada zaman Yesus, para wanitalah yang biasa menghibur mereka yang menjelang ajal serta menguburkan mereka yang meninggal. Kisah sengsara dalam Injil menunjukkan bagaimana para wanita menunaikan tugas-tugas mereka. Sungguh, Veronika memenuhi gambaran Injil secara mengagumkan - seorang wanita yang mengulurkan tangannya kepada mereka yang menderita serta menemukan wajah Tuhan yang tersembunyi di sana.

sumber : “What about incidents not mentioned in the gospels? Jesus Meets His Mother, Jesus' Three Falls, the Story of Veronica by Fr. Victor Hoagland, C.P.; Copyright 1997-1999 - The Passionist Missionaries; www.cptryon.org

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Fr. Victor Hoagland, CP.”

TANYA JAWAB DGN P. GABRIELLE AMORTH: PAKAR EKSORSISM GEREJA KATOLIK

Tanya-Jawab dengan P. Gabrielle Amorth : Pakar Eksorsisme Gereja Katolik
21 03 2010

“Kristologi yang mengabaikan setan adalah timpang dan tak akan pernah mampu memahami keagungan nilai penebusan.” ~ P. Gabriele Amorth
Pastor Gabriele Amorth dilahirkan pada tanggal 1 Mei 1925 di Modena, Italia utara, sebagai anak dan cucu pengacara. ...Di kemudian hari, sementara saudara laki-lakinya mantap memilih profesi sebagai hakim, Gabriel yang mengambil kuliah hukum di universitas akhirnya memilih untuk menjawab panggilannya menjadi seorang imam Katolik. Berikut wawancara dengan beliau:

1.  Bagaimana akhirnya Romo memilih menjadi seorang imam Katolik?
Sejak usia 15 tahun, saya tahu itu adalah panggilan saya yang sesungguhnya. Devosi saya yang teristimewa adalah kepada Santa Perawan Maria. Selama bertahun-tahun saya menjadi editor majalah Madre di Deo (Bunda Allah). Apabila saya mendengar orang mengatakan, “Kalian orang-orang Katolik terlalu menghormati Maria,” maka saya akan menjawab, “Kita tak akan pernah cukup menghormatinya.”

2. Bagaimana asal-mulanya hingga Romo menjadi seorang eksorsis?
Saya tak mengerti sama sekali eksorsisme – saya bahkan tak pernah memikirkannya – hingga pada tanggal 6 Juni 1986, Kardinal Poletti, yang pada waktu itu menjabat sebagai Vikaris Roma, meminta saya untuk menemuinya. Pada waktu itu di Roma ada seorang eksorsis terkenal, satu-satunya, yaitu Pastor Candido; tetapi beliau sakit-sakitan dan Kardinal Poletti meminta saya untuk menjadi asistennya. Saya belajar segalanya dari Pastor Candido. Ia adalah guru yang hebat. Segera saja saya menyadari betapa banyak pekerjaan yang harus dilakukan dan betapa sedikit eksorsis yang ada untuk melakukannya. Sejak hari itu, saya meninggalkan semuanya dan membaktikan diri sepenuhnya pada eksorsisme.

3. Apakah yang menjadi dasar eksorsisme dalam Gereja Katolik?
Yesus melakukan eksorsisme. Ia mengusir roh-roh jahat, membebaskan jiwa-jiwa dari kerasukan setan; dari Yesus Sendiri-lah Gereja menerima kuasa dan tugas pengusiran setan. Eksorsisme sederhana dilakukan Gereja dalam setiap pembaptisan, tetapi eksorsime yang lebih berat hanya dapat dilakukan oleh seorang imam yang mendapatkan wewenang khusus dari bapa uskup. Saya telah melakukan lebih dari 50.000 eksorsisme. Terkadang suatu eksorsisme membutuhkan waktu hanya beberapa menit saja, tetapi terkadang hingga berjam-jam lamanya. Sungguh suatu pekerjaan yang melelahkan.

4. Bagaimanakah Romo mengenali bahwa seseorang kerasukan setan?
Tidak mudah. Ada banyak tingkat kerasukan setan. Setan tak hendak dikenali, jadi ada orang-orang yang kerasukan yang berhasil menyembunyikannya. Ada kasus-kasus di mana mereka yang kerasukan menderita sakit fisik yang luar biasa hingga mereka tak dapat bergerak.
Amatlah penting untuk tidak mencampuradukkan antara kasus kerasukan setan dengan penyakit biasa. Gejala-gejala kerasukan setan seringkali meliputi sakit kepala yang hebat dan kejang perut; orang harus selalu pergi ke dokter terlebih dahulu sebelum datang pada seorang eksorsis. Ada banyak orang datang kepada saya, padahal mereka sama sekali tidak kerasukan; mereka menderita ayan atau schizophrenia atau masalah kejiwaan lainnya. Dari ribuan pasien yang saya temui, hanya sekitar seratus atau lebih yang sungguh kerasukan setan.

5. Bagaimana Romo dapat mengetahuinya?
Melalui penolakan mereka yang hebat terhadap sakramen dan segala hal yang kudus. Jika diberkati, mereka akan naik pitam. Jika dihadapkan pada salib, mereka takluk.

6. Tidakkah seorang yang histeris dapat mereka-reka gejala yang sama?
Kita dapat mengenali yang hasil rekaan. Kita melihat ke dalam mata mereka. Sebagai bagian dari eksorsisme, di saat-saat tertentu dalam doa, dengan dua jari kita membuka kelopak mata pasien. Hampir selalu, dalam kasus-kasus di mana roh jahat ada, bola mata sepenuhnya tampak putih. Bahkan dengan bantuan kedua tangan, kita nyaris tak dapat melihat apakah pupil mata mengarah ke atas atau ke bawah mata. Jika pupil mata mengarah ke atas, roh jahat yang merasukinya adalah scorpio; jika mengarah ke bawah adalah ular.

7. Dapatkah Romo menggambarkan ritual eksorsisme?
Idealnya, seorang eksorsis membutuhkan seorang imam lain untuk membantunya dan sekelompok orang yang akan mendukung imam lewat doa-doa mereka. Ritual tidak menetapkan sikap tubuh seorang eksorsis; sebagian berdiri, sebagian duduk. Ritual hanya mengatakan bahwa ritual dimulai dengan kata-kata “Ecce crucem Domini” (“Lihatlah Salib Tuhan”); imam hendaknya menjamah leher orang yang kerasukan dengan ujung stolanya dan meletakkan tangannya ke atas kepala kurban. Roh jahat akan berusaha untuk menyembunyikan diri. Tugas kita adalah membuatnya muncul, lalu menghalaunya keluar. Ada banyak cara untuk memaksa mereka memperlihatkan diri. Meski ritual tidak menyebutkannya, pengalaman mengajarkan bahwa minyak dan air suci, juga garam, dapat sangat efektif.
Roh-roh jahat sangat berhati-hati untuk tidak berbicara dan kita harus memaksanya berbicara. Apabila roh-roh jahat dengan suka hati berceloteh, maka itu adalah tipuan guna memperdaya eksorsis. Hendaknya kita tidak mengajukan pertanyaan yang tak berguna, yang timbul karena rasa ingin tahu; melainkan haruslah kita menanyainya dengan hati-hati. Kita selalu mulai dengan menanyakan nama roh jahat itu.

8. Apakah ia menjawab?
Ya, melalui kurban, tetapi dalam suara yang aneh dan tak wajar. Jika itu adalah iblis sendiri, ia akan mengatakan, “Aku setan, atau Lucifer, atau Beelzebul.” Kita tanyakan apakah ia sendirian atau adakah yang lain bersamanya. Biasanya ada dua atau lima, duapuluh atau tigapuluh. Kita harus mengetahui jumlahnya. Kita tanyakan bilamana dan bagaimana ia masuk ke dalam tubuh kurban. Kita mencari tahu apakah kehadiran mereka dikarenakan suatu kutukan dan jenis kutukan yang mana.
Selama eksorsisme, roh jahat dapat muncul perlahan-lahan atau muncul dengan ledakan yang tiba-tiba. Ia tak hendak memperlihatkan diri; ia akan murka dan ia amat kuat. Dalam suatu eksorsisme, saya melihat seorang anak berusia sebelas tahun yang dicengkeram oleh empat orang dewasa yang kuat, dan anak itu mencampakkan keempat-empatnya dengan mudah. Ada pula seorang anak laki-laki berumur sepuluh tahun yang mengangkat suatu meja yang sangat besar dan berat. Sesudahnya, saya memeriksa otot-otot lengan anak itu. Ia tak mungkin dapat melakukannya dari dirinya sendiri; ada kekuasatn iblis di dalamnya. Tak ada dua kasus yang sama. Sebagian pasien harus dibelenggu di atas tempat tidur. Mereka meludah; mereka muntah. Pertama-tama setan akan berusaha menjatuhkan mental eksorsis, lalu ia akan berusaha menakut-nakutinya, dengan berkata, “Malam ini aku akan menempatkan seekor ular di bawah tempat tidurmu. Esok aku akan memakan hatimu.”

9. Apakah terkadang Romo takut?
Tidak pernah; saya punya iman. Saya akan menertawakannya dan berkata, “Ada Santa Perawan di sampingku. Aku Gabriel. Pergi dan lawanlah Malaikat Agung St Gabriel jika kau mau.” Biasanya itu akan membungkam mereka.
Rahasianya adalah menemukan titik kelemahan roh jahat itu. Sebagian roh jahat tak dapat tahan apabila imam membuat Tanda Salib dengan stola pada bagian tubuh yang sakit, sebagian lainnya tak dapat tahan hembusan napas di wajah; yang lainnya berjuang sekuat tenaga melawan berkat dengan air suci.
Meringankan pasien selalu mungkin, tetapi menghalau roh jahat sepenuhnya dari kurban dapat dibutuhkan banyak eksorsisme selama bertahun-tahun. Sebab, bagi roh jahat, meninggalkan tubuh yang dirasukinya dan kembali ke neraka berarti mati untuk selamanya dan selanjutnya sama sekali kehilangan kemampuan untuk mencelakai manusia. Ia akan mengungkapkan keputusasaannya dengan mengatakan, “Aku mati, aku mati. Engkau membunuhku; engkau menang. Semua imam adalah pembunuh!”

10. Bagaimana asal mulanya hingga orang dapat dirasuki setan?
Saya yakin, terkadang Tuhan memilih jiwa-jiwa tertentu untuk mengalami suatu ujian khusus akan ketahanan rohani, tetapi, yang lebih sering terjadi adalah orang membuat dirinya rentan dirasuki iblis dengan bermain-main dengan black magic. Sebagian terjebak dalam praktek-praktek setanisme. Yang lainnya merupakan kurban suatu kutukan.

11. Apakah yang dimaksud kutukan itu seperti ketika Yasser Arafat mengatakan ‘Go to Hell’ kepada Ehud Barak, dan ia bersungguh-sungguh dengan perkataannya itu?
Bukan. Itu hanyalah sekedar sumpah serapah spontan. Sesungguhnya, amatlah sulit membuat kutukan. Diperlukan seorang imam setan untuk melakukannya dengan sempurna. Tentu saja, seperti kalian dapat menyewa seorang pembunuh jika kalian membutuhkannya, kalian pun dapat menyewa seorang tukang sihir laki-laki untuk mengucapkan kutuk atas nama kalian. Sebagian besar tukang sihir adalah palsu, tetapi saya khawatir ada beberapa tukang sihir sesungguhnya yang masih ada.

12. Mengapa tampaknya lebih banyak kaum perempuan yang dirasuki setan daripada kaum laki-laki?
Ah, hal itu kita tidak tahu. Mungkin kaum perempuan lebih rentan dirasuki sebab, dalam kenyataannya, lebih banyak perempuan daripada laki-laki yang tertarik pada ilmu gaib. Atau mungkin, itu adalah cara iblis untuk menjatuhkan laki-laki, seperti ia menjatuhkan Adam melalui Hawa. Yang kita tahu pasti adalah keadaannya semakin memburuk saja. Iblis berada di atas angin. Kita hidup dalam abad di mana iman semakin lemah. Jika kalian meninggalkan Tuhan, maka iblis akan mengambil alih tempat-Nya.

13. Adakah eksorsisme di luar Gereja Katolik?
Segala kepercayaan, segala kebudayaan, memiliki eksorsisme, tetapi hanya eksorsisme Kristiani yang memiliki kuasa sejati untuk mengusir roh-roh jahat melalui teladan dan kuasa dari Kristus.

14. Romo kurang setuju dengan ritus eksorsisme baru yang baru saja diterbitkan Vatican. Mengapa?
Mereka mengatakan bahwa kami tidak dapat melakukan eksorsisme kecuali jika kami tahu dengan pasti bahwa roh jahat ada di sana. Hal itu sungguh menggelikan. Hanya melalui eksorsisme saja kita dapat memaksa roh jahat untuk menyatakan diri. Eksorsisme tak akan pernah mencelakai siapapun.

15. Bagaimana dengan Bapa Suci?
Bapa Suci [Yohanes Paulus II] tahu bahwa iblis masih hidup dan aktif dalam dunia. Beliau sendiri melakukan eksorsisme. Pada tahun 1982, ia melakukan eksorsisme khidmad atas seorang gadis dari Spoletto. Gadis itu menjerit dan bergulung-gulung di atas tanah. Mereka yang melihatnya merasa ngeri. Paus mendatangkan pembebasan sementara untuknya.
Di lain kesempatan, pada tanggal 6 September, saat audiensi mingguan di St Petrus, seorang perempuan muda dari sebuah desa dekat Monza mulai menjerit-jerit saat Paus hendak memberkatinya. Ia meneriakkan kata-kata kotor kepada Bapa Suci dalam suara yang aneh. Paus memberkatinya dan membebaskannya, tetapi iblis masih ada dalam diri perempuan itu. Sesudahnya, ia menjalani eksorsisme seminggu sekali di Milan dan sekarang ia menemui saya sebulan sekali. Butuh waktu lama untuk menyembuhkannya, tetapi kita harus berusaha. Pekerjaan seorang eksorsis adalah meringankan penderitaan, membebaskan jiwa-jiwa dari siksaan, membawa yang lain semakin dekat pada Tuhan.

16. Apakah eksorsisme penting bagi pewartaan dan pelayanan Kristiani?
Ketika Petrus mengajar Kornelius mengenai Kristus, ia tidak menyebutkan suatu mukjizat selain dari kenyataan bahwa Yesus “menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis” (Kis 10:38). Maka, kita mengerti mengapa kuasa pertama yang Yesus berikan kepada para rasul-Nya adalah mengusir roh-roh jahat (Mat 10:1). Kita dapat membuat pernyataan yang sama bagi segenap umat beriman, “Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku” (Mrk 16:17).

17. Apakah kejahatan memang diciptakan oleh Tuhan? Apakah Tuhan menciptakan neraka?
Kita harus memperjelas hal ini: kejahatan, penderitaan, maut dan neraka tidak diciptakan oleh Tuhan. Saya hendak menceritakan sesuatu mengenai hal ini. Suatu hari P Candido sedang mengusir keluar roh jahat. Di akhir eksorsisme, imam berpaling kepada roh jahat dan dengan keras menghardiknya, “Keluar dari sini! Tuhan telah menyiapkan suatu tempat tinggal yang nyaman, dengan api yang berkobar-kobar untukmu!” Mendengar itu, roh jahat menjawab, “Kau tak tahu apa-apa! Bukan Dia [Tuhan] yang menciptakan neraka; tetapi kami. Ia bahkan tak pernah memikirkannya.” Serupa dengan itu, dalam kesempatan lain, ketika saya sedang menanyai roh jahat untuk mengetahui apakah ia terlibat dalam penciptaan neraka, roh jahat menjawab, “Kami semua terlibat.”

18. Apakah sebagian orang memang ditakdirkan untuk masuk neraka?
Saya biasa menjawab dengan empat kebenaran yang dinyatakan Kitab Suci bagi kita: Tuhan menghendaki agar semua orang diselamatkan; tak seorang pun ditakdirkan masuk ke neraka; Yesus wafat bagi semua orang; dan tiap-tiap orang telah dianugerahi rahmat yang cukup agar beroleh keselamatan.

19. Apakah Yesus lebih berkuasa dari roh-roh jahat?
Apabila saya mengucapkan kata-kata ini, “dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,” saya berlutut, semua orang yang hadir berlutut, dan selalu, orang yang kerasukan roh-roh jahat pun akan terpaksa berlutut. Sungguh suatu saat yang menggetarkan hati dan penuh daya kuasa.

20. Apakah Romo menonton “The Exorcist”, film horror terkenal tahun 1973?
[Ternyata itu adalah film favoritnya!]. Tentu saja, spesial efeknya berlebihan, tetapi suatu film yang bagus dan pada pokoknya benar, berdasarkan novel yang baik yang didasarkan pada suatu kisah nyata. Orang perlu tahu apa yang kami lakukan.
Sumber:   “An Interview With Fr Gabriele Amorth – The Church’s Leading Exorcist by Gyles Brandreth of The Sunday Telegraph (October 2000);